Sejarah Kerajaan Majapahit dari Berdiri hingga Runtuh: Sebuah Tinjauan Historis
Sejarah Kerajaan Majapahit merupakan salah satu epos paling gemilang sekaligus kompleks dalam panggung sejarah Asia Tenggara. Eksis antara kurun waktu 1293 hingga awal abad ke-16 (sekitar 1527 M), Majapahit bukan sekadar kerajaan agraris di pedalaman Jawa Timur, melainkan sebuah kemaharajaan maritim (thalassokrasi) yang hegemoni politik dan ekonominya melintasi batas-batas kepulauan Nusantara modern. Dalam konstruksi historiografi, Majapahit kerap diposisikan sebagai puncak integrasi politik pra-kolonial di kawasan ini.
Didirikan oleh Raden Wijaya pasca runtuhnya Singhasari
akibat invasi Mongol, Majapahit berkembang pesat terutama pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk dengan dukungan mahapatih Gajah Mada. Melalui Sumpah
Palapa yang terkenal, ekspansi wilayah dilakukan secara sistematis, mencakup
Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga sebagian Semenanjung Malaya. Namun,
penting dicatat bahwa konsep “kekuasaan” Majapahit tidak selalu bersifat
teritorial langsung, melainkan berbentuk jaringan mandala dengan relasi upeti
dan pengaruh politik.
Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah Kerajaan Majapahit
dari berdiri hingga runtuh, menganalisis dinamika politik, struktur
sosial-ekonomi, pencapaian kultural, hingga faktor-faktor struktural yang
memicu disintegrasi keruntuhannya menurut kacamata historiografi modern. Secara
sosial-ekonomi, Majapahit ditopang oleh sistem agraria yang kuat serta
perdagangan maritim yang terhubung dengan jalur internasional. Di sisi
kultural, karya sastra seperti Negarakertagama dan Sutasoma mencerminkan
kemajuan intelektual sekaligus nilai toleransi religius.
Meski demikian, kejayaan tersebut tidak berlangsung abadi.
Konflik internal, seperti Perang Paregreg, melemahkan stabilitas politik pusat.
Di saat yang sama, munculnya kekuatan-kekuatan baru berbasis Islam di pesisir
utara Jawa serta perubahan jalur perdagangan global turut menggerus dominasi
Majapahit. Dengan demikian, keruntuhan Majapahit tidak dapat dipahami sebagai
peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses panjang yang melibatkan faktor
internal dan eksternal secara simultan.
1. Latar Belakang dan Berdirinya Majapahit (1293 M)
Lahirnya Majapahit tidak dapat dilepaskan dari krisis
politik yang menghancurkan kerajaan pendahulunya, Singhasari, serta dinamika
geopolitik global pada akhir abad ke-13, yakni ekspansi Kekaisaran Mongol
(Dinasti Yuan).
Runtuhnya Singhasari dan Pelarian Raden Wijaya
Pada tahun 1292, Raja Kertanegara dari Singhasari tewas
dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang, bupati Gelang-gelang
(Kediri). Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Singhasari sekaligus
membuka babak baru dalam dinamika politik Jawa Timur. Menantu Kertanegara,
Raden Wijaya (Dyah Wijaya), berhasil melarikan diri ke Sumenep untuk meminta
perlindungan kepada Arya Wiraraja (Muljana, 2005).
Atas saran taktis Wiraraja, Raden Wijaya memilih strategi
kompromi politik dengan menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan berpura-pura
mengabdi. Langkah ini mencerminkan kecerdikan diplomasi sekaligus kemampuan
membaca situasi kekuasaan secara pragmatis. Dalam posisinya sebagai abdi,
Wijaya kemudian mengajukan permohonan kepada Jayakatwang untuk membuka sebidang
hutan di wilayah Tarik dengan alasan dijadikan kawasan perburuan kerajaan.
Permohonan tersebut dikabulkan, dan di lokasi yang kemudian
dikenal sebagai Hutan Tarik, Wijaya bersama para pengikutnya mulai membuka
lahan dan membangun permukiman baru. Kawasan ini ditumbuhi banyak pohon maja
dengan rasa buah yang pahit. Dari karakteristik inilah muncul penamaan
“Majapahit” — gabungan kata “maja” dan “pahit” — yang dalam bahasa Sanskerta
juga dikenal sebagai Wilwatikta.
Secara historiografis, fase ini sering ditafsirkan sebagai
titik awal berdirinya Majapahit, yang kelak berkembang menjadi salah satu
kekuatan politik terbesar di Nusantara. Pembukaan Hutan Tarik bukan sekadar
peristiwa geografis, melainkan simbol lahirnya pusat kekuasaan baru yang
dibangun melalui strategi adaptif, kecerdikan politik, dan pemanfaatan peluang
dalam situasi krisis.
Intervensi Mongol dan Taktik Raden Wijaya
Pada tahun 1293, armada besar Dinasti Yuan yang dikirim oleh
Kubilai Khan tiba di Jawa untuk menghukum Kertanegara. Raden Wijaya melihat ini
sebagai peluang emas. Menurut catatan kronik Tiongkok Yuan Shi, Wijaya
bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menggempur Kediri (Groeneveldt, 2009).
Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik
menyerang pasukan Mongol secara gerilya. Serangan mendadak ini memaksa sisa
armada Mongol melarikan diri kembali ke Tiongkok. Pada tanggal 15 bulan Kartika
tahun 1215 Saka (bertepatan dengan 10 November 1293), Raden Wijaya menobatkan
dirinya sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
2. Masa Konsolidasi dan Krisis Internal (1293 - 1328)
Periode awal Majapahit diwarnai oleh instabilitas politik.
Berdirinya kerajaan baru ini memicu perebutan kekuasaan di antara para panglima
yang merasa pembagian kekuasaan tidak proporsional (Farkhan, 2014).
Pemberontakan Para Sahabat
Kebijakan Raden Wijaya, ditambah intrik politik dari tokoh
licik bernama Mahapati, memicu serangkaian pemberontakan berdarah:
- Pemberontakan
Ranggalawe (1295)
- Pemberontakan
Lembu Sora (1300)
- Pemberontakan
Nambi (1316)
Masa Kelam Jayanegara
Setelah Raden Wijaya wafat pada tahun 1309, tahta Kerajaan
Majapahit beralih kepada putranya, Jayanegara. Namun, masa pemerintahannya
justru diwarnai oleh instabilitas politik dan serangkaian pemberontakan
internal yang menguji ketahanan struktur kekuasaan kerajaan yang masih relatif
muda. Situasi ini menunjukkan bahwa proses konsolidasi pasca-pendirian Majapahit
belum sepenuhnya mapan.
Puncak krisis terjadi dalam peristiwa Pemberontakan Ra Kuti
pada tahun 1319, ketika pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Ra Kuti berhasil
menduduki ibu kota dan mengancam keselamatan raja. Dalam kondisi genting
tersebut, Jayanegara terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan diri dari
kudeta yang hampir berhasil menggulingkan kekuasaannya.
Keselamatan Jayanegara kemudian ditentukan oleh loyalitas
pasukan elit kerajaan, yaitu Bhayangkara, yang saat itu dipimpin oleh seorang
perwira muda bernama Gajah Mada. Dengan strategi yang terorganisir dan
keberanian yang menonjol, Gajah Mada berhasil mengevakuasi raja ke tempat aman
sekaligus mengatur serangan balasan terhadap pasukan pemberontak hingga
akhirnya berhasil memulihkan kembali kendali kerajaan.
Peristiwa ini tidak hanya penting dalam konteks penyelamatan kekuasaan Jayanegara, tetapi juga menjadi titik balik dalam karier politik Gajah Mada. Keberhasilannya menunjukkan kapasitas kepemimpinan, loyalitas, dan kecakapan militernya, yang kemudian mengantarkannya naik dalam hierarki kekuasaan Majapahit. Dalam perspektif historiografi modern, episode ini kerap dipandang sebagai fondasi awal munculnya Gajah Mada sebagai aktor kunci dalam ekspansi dan kejayaan Majapahit pada periode berikutnya (Ricklefs, 2008).
3. Era Keemasan Majapahit: Tribhuwana Tunggadewi hingga Hayam Wuruk
Kerajaan menapaki masa kejayaan ketika tahta dipegang oleh
putri Raden Wijaya, Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350), dan mencapai puncaknya
di bawah Hayam Wuruk (1350-1389).
Sumpah Palapa dan Ekspansi Gajah Mada
Pada tahun 1336, ketika Gajah Mada diangkat sebagai
Mahapatih Amangkubhumi dalam struktur pemerintahan Majapahit, ia mengucapkan
sebuah ikrar politik yang monumental, yaitu Sumpah Palapa. Sumpah ini bukan
sekadar janji personal, melainkan sebuah doktrin geopolitik yang mencerminkan
visi besar untuk menyatukan wilayah Nusantara di bawah hegemoni Majapahit.
Dalam narasi yang terekam dalam kakawin Negarakertagama dan
Pararaton, Gajah Mada menyatakan bahwa ia tidak akan menikmati “palapa” (yang
sering ditafsirkan sebagai kenikmatan duniawi) sebelum berhasil menaklukkan dan
mempersatukan wilayah-wilayah seperti Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang,
Dompo, Bali, Sunda, Palembang, hingga Tumasik. Pernyataan ini menunjukkan
cakrawala politik Majapahit yang melampaui batas Jawa, mencakup jaringan
kepulauan yang luas.
Secara historiografis, Sumpah Palapa dapat dipahami sebagai strategi legitimasi kekuasaan sekaligus manifestasi ide integrasi kawasan. Konsep “penyatuan” yang dimaksud tidak selalu berarti kontrol administratif langsung, melainkan pembentukan jaringan kekuasaan berbasis pengaruh, tributari, dan aliansi politik dalam pola mandala khas Asia Tenggara. Dengan demikian, sumpah ini menjadi landasan ideologis bagi ekspansi Majapahit pada masa berikutnya, sekaligus menandai peran sentral Gajah Mada sebagai arsitek utama kejayaan imperium tersebut.
Hegemoni di Bawah Hayam Wuruk (Rajasanagara)
Masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389) sering dipandang
sebagai episentrum kejayaan Majapahit, ketika stabilitas politik, ekspansi
wilayah, dan kemajuan kultural mencapai titik puncaknya. Di bawah
kepemimpinannya, yang didukung oleh Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi,
Majapahit mampu mengonsolidasikan kekuasaan secara efektif, baik di pusat
maupun di wilayah-wilayah taklukan.
Menurut Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu
Prapanca pada tahun 1365, mandala kekuasaan Majapahit mencakup hampir seluruh
wilayah kepulauan Indonesia modern, Semenanjung Malaya, hingga Tumasik atau
Singapura (Robson, 1995). Namun, dalam perspektif historiografi modern, cakupan
ini lebih tepat dipahami sebagai jaringan pengaruh politik dan ekonomi daripada
kontrol administratif langsung. Sistem mandala yang diterapkan memungkinkan
Majapahit membangun relasi hierarkis dengan daerah-daerah bawahan melalui
mekanisme upeti, aliansi, dan simbolik kekuasaan.
Selain ekspansi wilayah, masa Hayam Wuruk juga ditandai oleh kemajuan dalam bidang sastra, seni, dan agama. Karya-karya seperti Nagarakretagama tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi politik, tetapi juga sebagai legitimasi ideologis atas kebesaran kerajaan. Dengan demikian, periode ini tidak hanya merepresentasikan puncak kekuatan teritorial Majapahit, tetapi juga kematangan peradaban yang mencerminkan integrasi antara kekuasaan politik dan ekspresi kultural.
Sistem Ekonomi dan Perdagangan Maritim:
Dalam kajian ekonomi sejarah, Jan Wisseman Christie (1998) menyoroti bahwa
Majapahit berhasil mengintegrasikan pasar-pasar lokal Jawa ke dalam jaringan
perdagangan laut Asia. Lembah Sungai Brantas dan Bengawan Solo menghasilkan
surplus beras yang ditukar dengan rempah-rempah dari Maluku, lalu diekspor
melalui pelabuhan Tuban dan Gresik. Hal ini diilhami oleh sistem birokrasi
perpajakan pelabuhan yang sangat terstruktur (Utomo, 2010).
4. Kehidupan Sosial, Budaya, dan Tata Kota Trowulan
Pencapaian Majapahit juga diukur dari tingginya peradaban
tata ruang dan kultural.
Trowulan sebagai Megapolitan Klasik
Berdasarkan temuan riset arkeologis, pusat pemerintahan
Majapahit di Trowulan tidak dapat dipahami sebagai keraton tertutup sebagaimana
konsep istana dalam tradisi feodal klasik, melainkan sebagai sebuah kota
kosmopolitan terbuka yang dinamis. Kawasan ini dihuni oleh puluhan ribu jiwa
yang terdiri dari beragam kelompok sosial, mulai dari elite birokrasi,
pedagang, pengrajin, hingga komunitas asing yang terlibat dalam aktivitas
perdagangan maritim.
Struktur tata ruang Trowulan menunjukkan tingkat perencanaan
urban yang maju. Berbagai temuan seperti jaringan kanal, kolam, dan waduk
mengindikasikan adanya sistem manajemen air yang canggih dan terintegrasi.
Infrastruktur ini tidak hanya berfungsi untuk kebutuhan domestik seperti
irigasi dan sanitasi, tetapi juga memiliki dimensi simbolik dan religius dalam
kosmologi Hindu-Buddha yang dianut masyarakat Majapahit. Dengan demikian,
pengelolaan air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kota sekaligus
legitimasi kekuasaan.
Selain itu, distribusi situs-situs arkeologis seperti candi,
pemukiman, dan area industri menunjukkan bahwa Trowulan merupakan pusat
aktivitas ekonomi dan kultural yang kompleks. Tidak terdapat batas fisik yang
kaku antara “keraton” dan “kota”, melainkan pola ruang yang menyatu dalam satu
lanskap urban. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Majapahit memiliki karakter
sebagai pusat peradaban terbuka dengan mobilitas sosial dan interaksi
antarbudaya yang tinggi.
Dalam perspektif historiografi modern, interpretasi ini menantang narasi lama yang melihat ibu kota kerajaan semata sebagai pusat kekuasaan politik yang eksklusif. Sebaliknya, Trowulan merepresentasikan model kota pra-modern di Asia Tenggara yang kosmopolitan, adaptif, dan terhubung dengan jaringan perdagangan regional (Munandar, 2008).
Sinkretisme Agama dan "Bhinneka Tunggal Ika"
Agama resmi kerajaan adalah perpaduan Hindu-Siwa dan
Buddha-Mahayana. Toleransi ini dirumuskan oleh Mpu Tantular dalam Kakawin
Sutasoma: "Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".
Selain itu, riset arkeologis pada Makam Troloyo membuktikan bahwa komunitas
Muslim telah bermukim dan memiliki kedudukan terhormat di pusat ibukota
Majapahit tanpa mengalami persekusi (Santiko, 2012).
5. Tragedi Bubat (1357): Noda dalam Sejarah Ekspansi
Satu-satunya kegagalan diplomasi Majapahit adalah peristiwa
Pasunda Bubat. Rencana pernikahan Hayam Wuruk dengan putri Sunda, Dyah
Pitaloka, berujung pada pertempuran berdarah akibat ambisi Gajah Mada yang
menuntut Sunda tunduk sebagai vasal (Coedes, 1968). Tragedi ini
menyebabkan hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang di akhir hayat sang
Mahapatih.
6. Kemunduran dan Runtuhnya Majapahit (Abad 15 - 16)
Keruntuhan Majapahit adalah proses disintegrasi struktural
yang panjang. Pakar sejarah sepakat bahwa keruntuhan ini lebih banyak
disebabkan oleh faktor internal dan pergeseran rute niaga (Noorduyn, 1978).
Perang Paregreg (1404–1406)
Konflik suksesi antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi
meledak menjadi perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Konflik
ini berakar pada dualisme kekuasaan dalam tubuh Majapahit pasca wafatnya Hayam
Wuruk, yang memunculkan rivalitas antara pusat kekuasaan di barat dan timur.
Perang Paregreg bukan sekadar konflik elite istana,
melainkan krisis struktural yang berdampak luas terhadap stabilitas politik
kerajaan. Pertempuran yang berlangsung berkepanjangan menyebabkan terkurasnya
sumber daya ekonomi, termasuk kas negara dan tenaga militer. Infrastruktur
pemerintahan pun melemah, sehingga kemampuan Majapahit dalam mengelola wilayah
taklukan mengalami penurunan signifikan.
Dampak paling nyata terlihat pada melemahnya kontrol
Majapahit terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis di pesisir utara Jawa.
Wilayah-wilayah seperti Gresik, Tuban, dan Demak mulai menunjukkan
kecenderungan otonomi yang lebih kuat, seiring dengan meningkatnya pengaruh
jaringan perdagangan maritim berbasis Islam.
Dalam perspektif historiografi modern, Perang Paregreg sering dipandang sebagai titik balik yang mempercepat proses disintegrasi Majapahit. Konflik internal ini tidak hanya melemahkan legitimasi politik pusat, tetapi juga membuka ruang bagi munculnya kekuatan-kekuatan baru di pesisir yang pada akhirnya menggeser dominasi Majapahit dalam struktur geopolitik Jawa (Noorduyn, 1978).
Kebangkitan Kesultanan Demak
Memasuki abad ke-15, lanskap politik dan ekonomi di Jawa
mengalami transformasi signifikan, terutama dengan bangkitnya
pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara seperti Gresik, Demak, dan Tuban.
Kota-kota ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan internasional yang
relatif otonom, didorong oleh meningkatnya aktivitas jaringan dagang Muslim
yang menghubungkan Nusantara dengan kawasan Samudra Hindia hingga Timur Tengah.
Dominasi para pedagang Muslim tidak hanya berdampak pada
aspek ekonomi, tetapi juga membawa perubahan sosial dan kultural yang
signifikan. Komunitas-komunitas pesisir mulai membangun identitas politik yang
lebih mandiri, terlepas dari kontrol langsung Majapahit. Pola hubungan yang
sebelumnya berbasis mandala dan upeti secara perlahan melemah, digantikan oleh
dinamika kekuasaan baru yang lebih berbasis pada kontrol perdagangan dan
jaringan maritim.
Puncak dari pergeseran ini ditandai dengan berdirinya
Kesultanan Demak, yang menjadi simbol munculnya kekuatan politik Islam di Jawa.
Demak tidak hanya berperan sebagai pusat kekuasaan baru, tetapi juga sebagai
aktor penting dalam mengonsolidasikan jaringan pelabuhan pesisir di bawah
pengaruhnya. Dalam perspektif historiografi modern, kemunculan Demak
merepresentasikan perubahan struktur geopolitik dari dominasi agraris-pedalaman
menuju kekuatan maritim-pesisir.
Dengan demikian, pergeseran ini tidak dapat dipahami semata sebagai konflik antara dua kekuatan, melainkan sebagai transformasi struktural yang dipicu oleh perubahan jalur perdagangan global, mobilitas pedagang lintas budaya, serta adaptasi lokal terhadap dinamika ekonomi maritim (Ricklefs, 2008).
Serangan Akhir 1527
Klaim tradisional bahwa Majapahit runtuh pada tahun 1478
melalui peristiwa “Sirna Ilang Kertaning Bumi” akibat serangan Kesultanan Demak
perlu dikoreksi dalam kerangka historiografi modern. Penanggalan tersebut lebih
tepat dipahami sebagai simbolik kronogram (candrasengkala), bukan penanda
runtuhnya Majapahit secara faktual.
Secara historis, tahun 1478 justru merujuk pada konflik
internal berupa kudeta yang dilakukan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya
terhadap Kertabhumi. Peristiwa ini mencerminkan fragmentasi politik yang
semakin dalam di tubuh Majapahit, di mana legitimasi kekuasaan tidak lagi
terpusat dan stabil. Dengan demikian, “keruntuhan” pada fase ini lebih tepat
dimaknai sebagai disrupsi internal, bukan kehancuran total akibat faktor
eksternal.
Majapahit sendiri masih bertahan dalam bentuk kekuasaan yang
semakin terbatas hingga awal abad ke-16. Baru pada tahun 1527, proses
disintegrasi tersebut mencapai titik akhir ketika wilayah-wilayah sisa
Majapahit secara efektif diakuisisi oleh Sultan Trenggana dari Kesultanan
Demak. Momentum ini sekaligus menandai peralihan hegemoni politik di Jawa dari
kerajaan Hindu-Buddha menuju kesultanan Islam berbasis maritim.
Dalam perspektif historiografi, penting untuk membedakan antara narasi simbolik-tradisional dan rekonstruksi sejarah berbasis bukti. Keruntuhan Majapahit bukanlah peristiwa tunggal yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan proses panjang yang melibatkan konflik internal, perubahan ekonomi, serta tekanan eksternal yang berlangsung secara gradual (Hasan, 2004).
Kesimpulan: Warisan Abadi Majapahit
Sejarah Kerajaan Majapahit dari berdiri hingga runtuh
memberikan kita kerangka pemahaman tentang bagaimana geopolitik, integrasi
ekonomi maritim, dan toleransi beragama dikelola dalam sebuah imperium klasik.
Meskipun kekuasaan politiknya telah tiada, gagasan ideologis Majapahit—konsep
penyatuan Nusantara dan Bhinneka Tunggal Ika—tetap menjadi
landasan filosofis bagi negara-bangsa Indonesia modern.
Daftar Pustaka & Referensi Akademis
Buku (Monograf):
Coedes, G. (1968). The Indianized States of Southeast
Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.
Groeneveldt, W. P. (2009). Nusantara dalam Catatan
Tionghoa. Jakarta: Komunitas Bambu.
Muljana, S. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah
Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia
Since c.1200 (4th ed.). Stanford: Stanford University Press.
Robson, S. O. (1995). Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu
Prapanca. Leiden: KITLV Press.
Artikel Jurnal Ilmiah (Peer-Reviewed Journals):
Christie, J. W. (1998). "Javanese Markets and the Asian Sea Trade Network to A.D. 1400". Journal of the Economic and Social History of the Orient, 41(3), 344-381.
Hasan, D. (2004). "Masa Akhir Majapahit: Analisis Epigrafis dan Historiografis". Berkala Arkeologi, 24(1), 50-65.
Munandar, A. A. (2008). "Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian". Berkala Arkeologi, 28(2), 65-80.
Noorduyn, J. (1978). "Majapahit in the Fifteenth Century". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 134(2/3), 207-274.
Santiko, H. (2012). "Toleransi Beragama dan Karakter Bangsa: Perspektif Arkeologi di Era Majapahit". Jurnal Sejarah dan Budaya, 6(1), 15-28.
Utomo, B. B. (2010). "Majapahit dalam Lintas Pelayaran dan Perdagangan
Nusantara". Jurnal Penelitian Arkeologi, 12(2), 45-60.



Posting Komentar untuk "Sejarah Kerajaan Majapahit dari Berdiri hingga Runtuh: Sebuah Tinjauan Historis"