Ekspedisi Memburu Emas Hijau
Oleh: Jovan Galuh Ramadhani
Rempah-Rempah adalah salah satu tanaman yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Keberadaan rempah-rempah memiliki makna tersendiri bagi dunia kesehatan karena rempah-rempah memiliki kandungan zat yang dapat menyehatkan dan memulihkan tubuh jika terserang penyakit. Kandungan dalam rempah-rempah juga bermanfaat bagi penyedap dan pewarna makanan. Makanan-makanan tradisional yang masih menggunakan bumbu dari rempah-rempah memiliki cita rasa yang khas—seperti rawon yang menggunakan bumbu-bumbu yang masih tradisional sehingga kuah dan kaldunya berasa nikmat dan gurih.
Rempah-rempah juga dimanfaatkan untuk keperluan peribadatan seperti yang terjadi pada masyarakat Mesir Kuno. Bangsa Mesir Kuno memanfaatkan rempah-rempah untuk mengawetkan jenazah atau mayat. Salah satu kebudayaan yang ditinggalkan oleh bangsa Mesir Kuno adalah mumifikasi dari raja-raja atau pembesar kerajaan. Para pembesar kerajaan jenazahnya diawetkan dan dijadikan mumi dengan tujuan untuk mengenang dan mengagungkan raja tersebut. Pembuatan mumi oleh bangsa Mesir membutuhkan teknik dan cara khusus supaya mumi dapat awet dan tidak rusak (Turner, 2011: 151).
Rempah-rempah juga berperan dalam dunia penghangatan tubuh seperti yang dilakukan oleh orang-orang Eropa di waktu musim dingin. Orang-orang Eropa menggunakan rempah-rempah untuk menghangatkan tubuh karena wilayah Eropa pada saat musim salju suhunya dapat mencapai minus derajat celcius, sehingga hal itu membuat kehidupan masyarakat di sana hanya berpaku pada aktivitas-aktivitas ringan seperti berkumpul bersama keluarga, membersihkan salju, dan menghangatkan tubuh. Kehangatan tubuh orang-orang Eropa pada waktu musim dingin berasal dari tungku perapian dan konsumsi rempah-rempah sehingga sebelum musim dingin mendatangi Eropa, maka yang dilakukan oleh orang-orang di sana adalah menimbun rempah-rempah sebanyak-banyaknya agar tidak merasa kedinginan.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka remah-rempah bak putri cantik yang diperebutkan oleh banyak orang karena memiliki beberapa keistimewaan yang tidak ada substitusinya sehingga dikenal dengan emas hijau. Para pelaut dan pelancong berusaha menemukan tempat yang kaya dan menjadi sumber dari pasokan rempah-rempah di dunia. Pulau yang menjadi pusat rempah-rempah dikenal oleh bangsa Eropa dengan sebutan The Spice Island dan salah satunya adalah Maluku.
Kebanyakan rempah-rempah yang masuk ke Eropa berasal dari India dan Nusantara yang dijual oleh pedagang yang berlayar sampai ke Konstantinopel. Nusantara yang menjadi daerah penghasil rempah-rempah terbanyak di dunia ternyata juga menjadi sasaran ekspansi dari bangsa asing yang ingin menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah. Kekayaan rempah-rempah ternyata selain menjadi suatu berkah ternyata juga membawa kepada suatu kondisi yang diibaratkan berdiri di tepi jurang. Keadaan tersebut disebabkan oleh kedatangan bangsa asing dengan semangat yang berkobar-kobar ingin mendapatkan rempah-rempah dengan jalan sepihak dan cenderung melakukan aneksasi serta kooptasi.
Ekonomi pasca Perang Salib dikuasai oleh kaum Islam di mana mereka melakukan blokade terhadap Kota Konstantinopel yang mengakibatkan harga-harga komoditas seperti rempah-rempah merangkak naik. Disusul dengan adanya penemuan dari para ilmuan seperti Copernicus dan Galileo Galilei yang mengungkapkan bahwa matahari sebagai pusat tata surya atau yang dikenal dengan Teori Heliosentris menjadi faktor pendorong lahirnya ekspedisi ke Dunia Timur. Kondisi harga rempah-rempah yang selangit, keinginan untuk membuktikan kebenaran Teori Heliosentris, dan adanya penemuan-penemuan peralatan navigasi serta kartografi seperti peta, kompas, dan teropong membuat nyali penjelajah untuk mengarungi samudra untuk mencari rempah-rempah semakin menghujam kuat (Hall, 1984: 132).
Penjelajahan samudra ke Dunia Timur dipelopori oleh Spanyol dan Portugal. Pada suatu saat kedua negara tersebut berselisih karena ingin mempunyai tanah jajahan yang diselesaikan dengan Perjanjian Tordesillas yang isinya membagi bumi menjadi dua bagian, bagian timur milik Portugis sedangkan bagian barat milik Spanyol dengan Tanjung Harapan sebagai batasnya. Setelah menandatangani Perjanjian Tordesillas, kedua negara tersebut ternyata bertemu di satu titik yaitu di Maluku yang mengakibatkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa yang mengharuskan Spanyol angkat kaki dan bermigrasi ke Filipina (Hall, 1984: 136).
Motivasi penjelajahan samudra karena didorong oleh semangat 3G yaitu gold, glory, dan gospel. Gold berarti mencari kekayaan yang disimbolkan dengan logam mulia berupa emas, karena emas kala itu harganya sangat fantastis sehingga orang yang memiliki emas maka statusnya adalah orang kaya. Semangat menumpuk emas sebanyak-banyaknya dikenal dengan istilah merkantilisme.
Merkantilisme mengharuskan penganutnya untuk berdagang untuk memperoleh laba yang dapat digunakan untuk membeli emas. Paham ini juga mempercayai bahwa hanya dengan berdagang seseorang dapat menjadi kaya raya. Selain untuk mencari emas, penjelajahan samudra juga didalangi oleh penguasaan sumber-sumber penghasil rempah-rempah. Hal ini akibat dari melonjaknya harga rempah-rempah di pasaran Eropa (Colles, 1975: 130).
Glory berarti mencapai kejayaan maksudnya di setiap suku, kerajaan, atau negara sekalipun pasti memimpikan wilayah kekuasaan yang luas. Melalui penjelajahan samudra nantinya dapat menemukan wilayah baru kemudian ditaklukkan dan dijadikan sebagai vasal. Status sebagai daerah vasal mengakibatkan wilayah tersebut dapat dieksploitasi dan dikerahkan untuk modal mencapai kejayaan. Wilayah vasal yang luas memiliki arti penting yaitu dari segi tanahnya dapat digunakan sebagai basis pertahanan. Pertahanan di sini dimaksudkan dengan menempatkan senjata dan tentara yang dapat memperkuat pertahanan dan keamanan.
Selain dapat dimanfaatkan tanahnya, penduduknya juga dapat dieksploitasi sebagai tenaga kerja di perkebunan serta perusahaan. Penduduk juga sebagai penyumbang pajak bagi negara, jika pajak dapat berhasil maka keadaan ekonomi negara tersebut dalam kondisi yang matang. Selain itu negara akan mencapai masa keemasan jika antara militer, ekonomi, dan pemerintahan kuat. Eksploitasi penduduk telah dilaksanakan baik oleh penjajah Portugis dan Spanyol di Amerika maupun penjajah Belanda di Nusantara untuk menggarap lahan-lahan perkebunan agar menghasilkan pundi-pundi kekayaan untuk menambah kejayaan negara induk.
Gospel berarti menyebarkan agama Nasrani dan membudayakan orang-orang di luar Eropa. Dasar dari penjelajahan samudra adalah buku-buku dari para penjelajah terdahulu yang pernah meneliti bahasa dan budaya masyarakat di luar Eropa. Buku-buku kuno tersebut menceritakan bahwa penduduk di dunia luar memiliki bahasa yang kadang-kadang sulit dipahami karena berbeda dengan bahasa Eropa. Selain itu budayanya pun masih terbelakang dan biadab, seperti belum beragama dan masih menyembah kayu dan batu.
Selain itu, masyarakat di sana juga kurang menjaga kebersihan buktinya adalah adanya aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus) di kali. Melihat fenomena-fenomena tersebut maka terdorong hasrat orang-orang Eropa untuk membudayakan orang-orang di luar Eropa lewat agama Kristen, sehingga penjelajahan Spanyol dan Portugis membawa serta pemuka agama untuk kepentingan pengkristenan daerah jajahan (Colles, 1975: 138).
Penjelajahan ke Dunia Timur mengandalkan jalur laut karena jalur darat sangat berbahaya dan bermedan curam. Jalur darat telah ada sejak zaman peradaban kuno yang dibuktikan dengan adanya Jalur Sutra atau Silk Road. Jalur darat sangat berbahaya karena adanya perompak dan terdapat hutan-hutan yang masih belantara yang rawan akan binatang buas.
Hutan yang rimbun dapat menghambat perjalanan penjelajah karena mereka harus membabat hutan serta adanya beban berat yang memaksa mereka memikulnya jika lewat jalur darat. Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka para penjelajah memutuskan tetap menggunakan jalur laut untuk perjalanannya.
Kapal yang dipakai pun juga berukuran kecil dengan anggota yang tidak banyak. Musuh dan tantangan dalam pelayaran adalah ombak dan angin. Ombak yang besar dipengaruhi oleh angin yang kencang pula, sehingga ketika terjadi gelombang maka penjelajah harus memutar arah untuk menghindari amukan ombak. Arah angin juga menentukan keberangkatan para penjelajah. Penjelajah menggunakan pergantian angin untuk memulai perjalanan kembali, setelah beberapa saat terdampar di suatu daerah.
Selain itu keuntungan jika menggunakan jalur laut adalah kapal dapat memuat senjata serta logistik yang banyak untuk bekal perjalanan. Jika menggunakan jalur darat tidak memungkinkan karena kendaraan yang masih kuno. Selain itu belum adanya jalur udara yang dapat diakses menggunakan pesawat mengharuskan jalur laut sebagai pilihan satu-satunya jalur penjelajahan ke Dunia Timur.
Tantangan lain yang dihadapi oleh penjelajah samudra adalah adanya bajak laut, perlawanan dari penduduk setempat, dan perasaan frustasi dari anggota. Frustasi tersebut muncul karena kejenuhan di dalam kapal yang diombang-ambingkan ombak berhari-hari di tengah laut serta hiburan yang sangat terbatas. Frustasi dapat mengakibatkan kesolidan antar anggota mulai berkurang.
Penjelajahan samudra tidak semata-mata atas keinginan individu semata, tetapi ada campur tangan negara di dalamnya. Seperti Spanyol dan Portugis yang membiayai setiap ekspedisi yang dilakukan oleh warga negaranya dengan mengemban misi suci untuk menyebarkan agama Kristen. Akomodasi dari negara berupa gaji yang besar membuat semangat para penjelajah tidak surut untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah (Cortesao, 1944: 74).
Sumber
Colless,
B.E. (1975). Majapahit Revisited: External Evidence On The Geography And Ethnology
Of East Java In The Majapahit Perios. JMBRAS 2 (1975), Hlm. 124-161.
Cortesao,
A. (1944). The Suma Oriental Of Tome Pires: An Account Of The East, From The
Red Sea To Japan, Written In Malacca And India In 1512-1515. London: Hakluyt
Society Series.
Hall,
K.R. (1985). Maritime Trade And State Development In Early Southeast Asia.
Honolulu, Hawai: University Of Hawaii Press.
Turner,
Jack. (2011). Sejarah Rempah: Dari Erotisme Sampai Imperialisme. Jakarta:
Komunitas Bambu.

Posting Komentar untuk "Ekspedisi Memburu Emas Hijau"