3 Tokoh Filsafat Skolastik yang Pemikirannya Berpengaruh
Abad pertengahan merupakan suatu arah pemikiran yang berbeda dengan arah pemikiran dunia kuno. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah rumpun bangsa yang baru, yitu bangsa Eropa Barat.
Masa ini disebut masa Skolastik karena ilmu pengetahuan abad
pertengahan diusahakan oleh sekolah-sekolah. Semula Skolastik timbul di
biara-biara Gallia Selatan. Dari biara-biara tersebut pengaruh Skolastik
keluar sampai Irlandia, Belanda, dan Jerman. Kemudian Skolastik muncul di
sekolah-sekolah kapittel, yaitu sekolah yang dikaitkan dengan Gereja. Banyak
tokoh pada masa skolastik ini, seperti Thomas Aquinas, Albert Magnus, William
Ockham, Nicolas Casaus, dan Peter Abaelardus.
Skolastik merupakan sebuah periode di mana ilmu pengetahuan
berkembang lumayan pesat terutama ilmu filsafat. Skolastik sendiri berasal dari
kata school yang berarti sekolah, ini menandakan ilmu berkembang luas melalui
pengajaran-pengajaran ilmiah berbasis pedidikan. Masa skolastik ini berkembang
dimasa abad pertengahan yang dipengaruhi oleh agama. Pada masa skolastik ini
sendiri juga dikenal dengan masa modern, atau sejarah teologi modern.
Berikut ini kami merangkum 3 tokoh filsafat skolastik yang
pemikirannya berpengaruh.
1. Peter Abelardus
Peter Abelardus lahir di Pallet (Palais), tidak jauh dari
Nantes, Prancis, pada tahun 1079. Dia adalah anak tertua dari rumah Breton
Mulia. Nama aslinya adalah Pierre de Palais. Peter Abelardus adalah seorang
filsuf dan teolog yang terkenal pada Abad Pertengahan. Ia dipandang sebagai
pendiri skolastisisme bersama dengan Anselmus dari Canterbury.
Salah satu pemikiran Abelardus yang terkenal adalah tentang
kemurnian sikap batin. Di samping itu dia juga berfikir bahwa peranan akal yang
dapat menundukan iman, iman haruslah didahului oleh akal. Berpikir itu berada
di luar iman (di luar kepercayan).
![]() |
| Peter Abelardus |
Oleh sebab itu, berpikir merupakan sesuatu yang berdiri
sendiri. Peter Abelardus memberikan status yang tinggi kepada penalaran dari
pada iman. Karena itu sesuai dengan metode dialektika yang tanpa ragu-ragu
ditunjukan dalam teologi, yatiu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi
semua bukti-bukti.
Dengan demikian, dalam teologi itu, iman hampir kehilangan
tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran Trinitas juga berdasarkan pada
bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.
Abelardus berpendapat bahwa kejadian kematian Yesus di kayu
salib menunjukkan kasih Allah yang tulus. Kasih Allah kepada manusia
merupakan kasih tanpa syarat sehingga tidak ada tuntutan apapun kepada manusia
bahkan sekali pun manusia telah jatuh dalam dosa.
Penyaliban Kristus dibuat sebagai undangan dari Allah kepada
manusia mengganti kehidupannya dari yang penuh dengan dosa dibuat sebagai
kehidupan yang penuh kasih. Karya Yesus melintasi pelayanan-Nya selama ia hidup
sampai kejadian kematian-Nya dibuat sebagai teladan moral bagi manusia. Bagi
Abelardus, dengan menyaksikan Kristus yang disalib, manusia akan menerangkan
hati dan memberi solusi kasih Allah.
2. Albertus Magnus
Albertus Magnus adalah seorang cendikiawan di abad
pertengahan yang sangat terkenal. Selain sebagai cendikiawan, Albertus adalah
seorang biarawan. Sebutan “Magnus” yang berarti (besar, agung) diberikan berkat
pemikiran-pemikirannya yang begitu mengagumkan. Meskipun pemikiran-pemikirannya
tidak begitu orisinil, namun vitalitasnya dalam studi dan keberaniannya
menyesuaikan iman kristiani sangatlah layak untuk diapresiasi.
Pada saat itu sedang terjadi kontroversi antara pola pikir
Filsafat Yunani, Filsafat Islam dan tradisi teologi para Bapa Gereja. Di abad
pertengahan itu, saat dunia pengetahuan tengah mengalami kejayaan dimana
merajalelanya ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, logika, retorika,
metematika, kimia, botani dan zoology mambuat Gereja ditantang untuk
mengintegrasikan dengan penalaran imani secara serius danmendalam. Di sinilah
Albertus menjawab tantangan tersebut. Albertus berhasil menyumbangkan pemikirannya
tentang teologi yang fasih membahasakan iman secara bernalar dan modern.
![]() |
| Albertus Magnus |
Pemikiran Albertus yang menarik hingga saat ini adalah
tentang keyakinannya bahwa pengetahuan tertinggi tentang Tuhan yang kita dapat
di dunia ini didapat secara negatif. Artinya, yang bisa kita ketahui secara
manusiawi hanyalah apa yang tidak bisa dikenakan pada Tuham, misalnya bahwa
Tuhan itu sesuatu yang tidak terbatas. Tapi apa persis “tidak terbatas” itu
tidak bisa dimengerti sebab manusia serba terbatas tidak bisa mengalami
keterbatasan. Selin itu, Albertus berpendapat bahwa roh bukan sesuatu yang tinggal
dalam badan, tetapi sebaliknya bahwa badanlah yang tinggal di dalam roh, sebab
roh lebih hakiki dari badan. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di alam
semesta bersfat rohani.
Situasi yang dihadapi Albertus Agung pada intinya adalah
tantangan untuk mengintegrasikan pluralisme pandangan yang muncul dari luar
(pandangan agama lain dan pandangan ilmiah sekuler) maupun dari dalam gereja,
yaitu berupa kontroversi teologis secara mendalam.
3. Thomas Aquinas
Thomas Aquinas lahir pada tahun 1225 di Roccasecca, sebuh
kota di dekat Nepal, dari keluarga bangsawan Italia. Pada masa mudanya ia hidup
bersama pamanya yang menjadi pemimpin ordo di Monte Cassino.
Perjalanan hidup dan pendidikannya berada yang berada di
lingkungan Gereja menjadikan dia cocok untuk disebut sbagai theolog daripada
filosuf. Namun, bukan berarti segala pemikirannya tanpa ada intervensi
filsafat, tetapi yang ia tekankan adalah pemikiran filsafat yang di pancarkan
oleh wahyu atau agama. Dengan kata lain ia lebih mengedepankan doktrin agama
dari pada pemikiran filosofis yang liar. Thomas memiliki keinginan untuk
mengharmonisasi antara akal dan wahyu sehingga menjadi suatu pengetahuan yang utuh
dan menjadi sumber kebenaran.
![]() |
| Thomas Aquinas |
Tahun 1239 menjadi sebuah titik awal Thomas Aquinas
menampilkan pengintegrasian paling penuh dan sempurna dari fislafat Aristoteles
ke dalam teologi. Karena pada saat itu diusianya yang masih 13 atau 14 tahun,
Thomas Aquinas dipindahkan dari biara Benediktin di Monte Casino untuk
melanjutkan studinya di Universitas Napoli. Di tahun 1273 ia menghasilkan karya
berjudul Summa Theologiae.Ia disebut sebagai “Ahli teologi utama orang
Kristen.” Bahkan ia dianggap sebagai orang suci oleh Gereja Katholik dan memiliki
gelar santo.
Aquinas yang merupakan seorang filusuf dan teolog melengkapi
pandangan Agustinus yang didasari oleh pemikiran Plato dan Neo-Platonisme untuk
memahami secara rasional mengenai ilam Kristiani. Aquinas menggunakan filsafat
Yunani sebagai dasar filsafat untuk meluruskan iman Kristiani. Menurutnya,
keberadaan Tuhan yang dapat menjembatani kebenaran yang dicapai oleh iman
maupun akal budi. Maksudnya, di stu pihak keberadaan Tuhan dapat diteria dalam
iman, dipihak lain dapat dimengerti atas dasarargumen yang masuk akal. Jadi,
semua kebenaran adalah masuk akal, karena berasal dari Tuhan sebagai Being yang
rasional.
Hubungan antara filsafat dan teologi nampak jelas dalam
pandangan Aquinas terhadap filsafat Aritoteles. Menurut Aquinas, sistem
filsafat Aristoteles mengandung kebenaran rasional yang sejati. Problemnya
adalah “bagaimana memahami filsafat tanpa kehilangan hakekat teologi”. Bagi
Aquinas, tidak semua kebenaran teologis itu jelas dengan sendirinya bagi akal
budi manusia. Misalnya, kebenaran eksistensi Tuhan. Kebenaran ini berasal
dari wahyu, namun perlu dijelaskan secara filosofis supaya apa yang diimani
atau dipercayai dapat dipahami secara rasional.




Posting Komentar untuk "3 Tokoh Filsafat Skolastik yang Pemikirannya Berpengaruh"