Politik Isolasi Jepang pada Masa Pemerintahan Tokugawa (1638-1863)
![]() |
| Potret reka ulang sosok bersejarah pendiri Keshogunan Tokugawa, Jepang. |
Jepang merupakan salah satu negara maju di benua Asia bahkan dunia. Negara ini sendiri menganut sistem negara monarki konstitusional yang sangat membatasi kekuasaan Kaisar Jepang. Selama lebih dari dua ratus tahun , Jepang secara berturut-turut berada di bawah kepimimpinan kekaisaran. Yang kemudian pada masa Perang Dunia berlangsung diduduki oleh kaisar (Benedict, 1982:107).
Sebagai bangsa yang pernah memiliki sejarah sebagai
suku bangsa yang terisolasi, kemudian berubah menjadi masyarakat industri
terkemuka yang paling berpengaruh, tentunya menjadi sangat menarik mempelajari
latar belakang budaya dan pola politik yang dimiliki oleh bangsa Jepang yang
tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsanya yang pernah mengalami
masa politik isolasi yaitu sejak 1638 sampai 1863, yang juga disebut dengan
periode Tokugawa.
Selama lebih dari dua ratus tahun pada masa Edo,
Jepang secara berturut-turut berada di bawah kepimimpinan keluarga Tokugawa.
Pada periode ini juga Jepang menjalankan Politik sakoku atau isolasi. Politik
sakoku adalah suatu kebijakan politik yang menutup diri dari intervensi asing
dalam segala bidang.
Zaman Edo sendiri berlangsung dari 1603-1866, dan
politik isolasi mulai diberlakukan pada tahun 1633 yaitu pada masa kepemimpinan
Tokugawa Iemetsu (Shogun ke-3). Dalam ketetapannya Jepang dilarang untuk
berhubungan dengan dunia luar kecuali untuk pedagang Cina dan Belanda melalui
pelabuhannya di Nagasaki dan Dezima. Pada saat menjalani masa politik isolasi
ini masalah-masalah hubungan luar negeri tidak diperhatikan oleh Jepang, namun
sebelumnya kontak-kontak penting antara Jepang dengan dunia luar terjadi untuk
pertama kalinya pada abad ke 7 dan 9 antara tahun 607-838, yaitu ketika
pemerintahan Jepang melakukan upaya-upaya ambisius untuk mempelajari dan
menerapkan berbagai bidang ilmu dari Negara Cina yang pada saat itu merupakan
salah satu Negara yang telah mengalami kemajuan dalam bidang kebudayaan dan
pengetahuan terlebih dulu.
Kegiatan hubungan luar negeri ini kemudian terputus
berabad-abad sampai terjadinya dua serangan yang gagal yang terjadi pada zaman
Kamakura (zaman feodal awal yang terletak di daerah Kamakura pada tahun
1192-1333), yang menyerang wilayah Kyushu pada tahun 1274 dan tahun 1281 oleh
orang-orang Mongol yang saat itu menguasai Cina oleh Kubilai Khan. Ia
mengorganisir pasukannya untuk menyerang kepulauan Jepang, Rusia, dan sebagian
Timur Tengah. Serbuan tersebut gagal dikarenakan kondisi cuaca, yaitu terjadinya
angin topan yang akhirnya dipercaya oleh orang Jepang sebagai Dewa Angin.
Berdasarkan kepercayaan orang Jepang itulah akhirnya angin topan yang berhasil
menggagalkan serangan dari Kubilai Khan tersebut disebut dengan Kamikaze atau
angin suci (Rikihie, Inoguchi, Roger Pineau, 2008:17)
![]() |
| Ilustrasi armada Mongol menyerang Jepang. |
Setelah kegagalan serangan dari Kubilai Khan tersebut,
Jepang berhasil menguasai semua propinsi yang berada di Jepang Tengah. Yaitu
pada masa kepemimpinan Ashikaga Yoshimitsu yang berhasil mengadakan hubungan
dagang dengan kekuasaan dinasti Ming di Cina. Produksi dalam negeri menjadi
meningkat dan terjadi perbaikan di sektor pertanian. Pada zaman ini yang
disebut dengan zaman Muromachi (Hall, 2008:183).
Kemudian pada tahun 1542 datanglah untuk pertama
kalinya para pedagang Portugis dan biarawan Jesuit di Kyushu. Mereka
memperkenalkan dua hal baru kepada masyarakat Jepang yaitu senjata dan agama
Kristen. Hal ini terjadi karena Oda Nobunaga ingin melancarkan hubungan
perdagangan luar negerinya yang pada waktu itu yang didominasi oleh bangsa
Eropa. Tokoh terkenal yang menjadi pelindung agama Kristen ini adalah Oda
Nobunaga yang merupakan pemimpin (Udaijin) pada zaman yang dikenal dengan nama
Azuchi Momoyama (Henshall, 2004:45).
![]() |
| Misionaris Jesuit di Jepang. |
Setelah wafatnya Oda Nobunaga, kepemimpinan digantikan
oleh pengikut Oda yaitu Toyotomi Hideyoshi. Pada masa kepemimpinan Hideyoshi
inilah penyebaran agama Kristen yang dibawa oleh bangsa Eropa dilarang. Menurut
Toyotomi kebijakannya tersebut diambil karena agama Kristen di Jepang
dianggapnya telah mengganggu orientasi penyatuan negeri, dan adanya kecurigaan
Hideyoshi terhadap dominasi orang-orang Eropa pada waktu itu.
Setelah Hideyoshi berhasil menyatukan Jepang, kemudian
muncul penguasa baru dari keluarga Tokugawa, yaitu Tokugawa Ieasu yang muncul
sebagai penguasa baru setelah kemenangannya dalam perang Sekigahara mengalahkan
keluarga Mitsunari yang merupakan pendukung dari keluarga penguasa terdahulunya
Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1600.
Dalam menjalankan kebijakan pemerintahannya Ieasu
memiliki pandangan yang sama dengan pendahulunya Hideyoshi mengenai pelarangan
masuknya agama Kristen, yang kemudian pada masa Tokugawa ini ditetapkan menjadi
peraturan nasional pada tahun 1612. Larangan agama ini kemudian disusul dengan
adanya pelarangan orang Jepang ke luar negeri pada tahun 1635. Kebijaksanaan
lainnya yaitu mengetatkan pengawasan dagang dengan Negara lain pada tahun 1639.
Bangsa Eropa yang diizinkan berdagang ke Jepang hanyalah orang Belanda melalui
kantor dagangnya di Dezima dan Nagasaki. Kebijaksanaan isolasi inilah yang
kemudian dikenal dengan nama Sakoku (Politik Isolasi).
Keadaan Sosial dan Politik
Ketika Jepang telah disatukan oleh kerajaan Yamato
yang pemimpinnya dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai keturunan dari dewi
matahari, hal inilah kemudian Jepang mengawali masa pemrintahannya sebagai
Negara monarki yang berturut-turut di pimpin oleh seorang kaisar dari tahun 250
sampai 1185. Namun pada kenyataannya peran dan fungsi kaisar sebagai penguasa
pada zaman monarki ini mengalami pasang surut dan berbagai kendala, baik dari
pihak bangsawan maupun para pendeta Buddha yang pada waktu itu sedang gencar-gencarnya
mempelajari berbagai ilmu dari Cina dan berusaha menerapkannya dalam berbagai
bidang. Dan ketika memasuki zaman feudal peran dari kaisar pun semakin
terabaikan, sehingga berbagai cara dan upaya dilakukan dari pihak istana untuk
terus berusaha mengembalikan wewenang dan kekuasaan ke tangan kaisar.
Secara spesifik kebijakan-kebijakan yang berlaku pada
zaman Edo hampir sama seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku pada masa
pendahulunya yaitu institusi yang didirikan oleh Oda dan diteruskan oleh
Hideyoshi, tetapi kemudian Ieasu menyusun kebijakan-kebijakan tersebut secara
lebih sistematis dan menetapkan beberapa kebijakannya sebagai falsafah
nasional. Bagi Ieasu Kelangsungan hidup dari para daimyou ini merupakan hal
yang penting untuk menjadi perhatian utama, karena berdasarkan sejarah setiap
pemberontakan dan pertempuran yang terjadi pada masa-masa sebelumnya selalu
melibatkan kekuatan dari para daimyou. Dengan begitu Ieasu meminta para daimyou
untuk memberikan pengabdian penuh dan kesetiaan kepadanya. Ieasu melarang para
daimyou untuk membentuk aliansi antar sesamanya. Hal ini dilakukan agar tidak
terjadi penghianatan ataupun penyerangan dari kelompok-kelompok yang ingin
menyerangnya. Lebih jauh lagi Ieasu memberikan kontrol penuh terhadap setiap
pernikahan para daimyou yang harus berada dibawah persetujuannya. Dari
kebijakannya ini Ieasu mencoba belajar dari kegagalan-kegagalan yang telah
dilalui oleh kedua pelopor sebelumnya.
Kemudian pada masa generasi Tokugawa ke-3, Tokugawa
Iemitsu membentuk badan pengawas untuk mengawasi seluruh daimyou di seluruh
negeri yang disebut Mitsuke. Selain itu Iemitsu juga mendirikan badan pengawas
untuk mengawasi kuil-kuil Buddha di seluruh negeri yang disebut Jishabugyou dan
Kanjobugyou untuk mengawasi urusan tanah dan keuangan militer. Pada zaman Edo
sistem pemerintahan yang berlaku disebut dengan sistem bakuhan. Bakuhan adalah
singakatan dari bakufu dan han, han yaitu sama dengan kedaimyou-an atau para
pemimpin daerah yang bertugas untuk mengawasi daerah atau disebut juga dengan
sistem pemerintahan semi otonomi yang bertugas mengawasi daerah administratif
atau propinsi. Pemerintahan bakufu (militer) bertindak sebagai pemerintah pusat
(Andrew Gordon, 2003:13).
Pada zaman Edo, jumlah para daimyou berkisar antara
260-270 orang, para daimyou ini dibagi atas tiga golongan oleh Tokugawa yaitu;
Sinpan daimyou, yaitu para daimyou yang merupakan keturunan langsung dari
keluarga Tokugawa; Fudai daimyou, yang merupakan pengikut Ieasu yaitu Tokugawa
pertama; dan Tozama daimyou, yaitu daimyou yang diangkat oleh Ieasu pada waktu
meletusnya perang Sekigahara. Untuk menghindari perebutan kekuasaan dan
memperkuat pertahanan Tokugawa menempatkan para daimyou yang paling setia di sekitar
wilayah Edo, dan para daimyou yang diragukan kesetiaanya ditempatkan di
wilayah-wilayah yang letaknya agak jauh dari Edo seperti di Kyushu dan Hokkaido
(Nihonshi, 2004:88).
![]() |
| Samurai Edo. (Sumber: Koran Jakarta) |
Peraturan lain yang ditetapkan untuk mengawasi
gerak-gerik dari para pemimpin daerah ini adalah, ditetapkannya peraturan
Sankin kotai, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa para daimyou beserta anak
dan istrinya harus menetap di Edo dan di daerah administratifnya secara
bergiliran dalam waktu satu tahun.12 Sementara daimyou pergi ke daerah
administratifnya anak dan istrinya harus menetap di Edo. Hal ini dilakukan agar
pemerintah dapat mengontrol para daimyounya, dengan jalan ini maka tidak ada
kesempatan bagi para daimyou untuk menghimpun kekuatan ataupun melakukan
berbagai upaya untuk menggulingkan pemerintah karena istri-istri dan anak-anak
dari para daimyou tersebut berada dalam kendali pemerintah pusat di Edo.
Pada zaman Edo ini untuk menghindari berbagai upaya
pemberontakan yang mungkin dapat dilakukan baik dari pihak istana maupun dari
kalangan pendukung kaisar, maka pihak pemerintah mengeluarkan peraturan lain
tentang pengaturan istana Kyoto. Peraturan yang dikeluarkan oleh Tokugawa ke-2,
Hidetada ini dikenal dengan nama Kinchu Narabaini Kuge Shohatto. Isi dari
peraturan ini diantaranya adalah ketidakbolehan kaisar untuk melibatkan diri
dalam kehidupan politik dan tugasnya adalah memperdalam ilmu dan kebudayaan
Jepang; dan kenaikan pangkat para bangsawan istana harus atas ijin bakufu; para
pemimpin daerah dilarang memasuki atau menghadap langsung kaisar di istana
Kyoto, agar kaisar tidak berkomplot dengan para pemimpin daerah.
Idiologi yang diajarkan pada zaman Edo itu sendiri
dipengaruhi oleh tiga macam pemikiran yaitu; Confucianisme Management School,
Western Management School, dan Religious Management School (Saronto,
1997:112). Selain itu, hal yang terjadi dalam masyarakat Jepang pada masa
politik isolasi Jepang erat pengaruhnya dengan sistem yang diterapkan oleh
pemerintah Jepang dimana masyarakatnya diharuskan untuk mempercayai bahwa
seorang Kaisar adalah keturunan dari Ameteratsu yang menjadi Dewa mereka.
Sementara pada masa Tokugawa bentuk feodalisme yang berhasil diterapkan
pemerintah Jepang ini dibuktikan dengan dibuatnya “falsafah nasional” bangsa
Jepang yang digunakan sebagai pegangan hidup yang dalam bahasa Jepangnya
disebut “kokutai no honggi” (prinsip dasar negara), dimana prinsip tersebut
menempatkan Kaisar sebagai penguasa negara yang merupakan keturunan langsung
dari Amaterasu (Dewa) (Abdul Irsan, 2007:47).
Kemudian seperti kebijakan yang berlaku pada masa
pendahulunya yaitu Oda dan Toyotomi, sistem pelapisan yang telah dicanangkan
oleh kedua pendahulunya tersebut pada zaman Edo diketatkan kembali. Masyarakat
dibagi menjadi empat kelas sosial, yang disebut dengan Shinokoshoyang
merupakan singkatan dari shi artinya bushi atau militer, noo artinya noomin
atau petani, Koo artinya koosakunin atau tukang, dan sho artinya shonin atau
pedagang. Dan dibawah kelas ini disebut dengan eta dan hinin yang dianggap sebagai
kelas terendah yang mungkin dapat disamakan dengan kaum budak.
Kelas militer juga dibagi menjadi tiga kelas; shogun
yang merupakan kelas militer teratas; lapisan berikutnya gokenin; kemudian
kelas dibawahnya disebut Asigaru. Kemudian untuk kelas petani dibagi menjadi
dua lapisan yaitu; tuan tanah yang memiliki tanah luas sendiri dan kelas petani
penyakap, termasuk petani miskin atau buruh tani. Seperangkat peraturan juga
dikeluarkan untuk kelas petani. Yaitu para petani dilarang berpindah tempat
tinggal; dilarang menjual ladang atau sawahnya, dilarang pindah pekerjaan,
dilarang menanami ladang dan sawahnya dengan tanaman-tanaman lain kecuali yang
sudah ditentukan oleh pemerintah, wajib menyetor pajak kepada pemerintah sesuai
jumlah yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
Tujuan utama ditetapkannya sistem pelapisan sosial
yang ketat ini ialah untuk melaksanakan pengawasan feodal militer secara ketat.
Seseorang tidak diperbolehkan menukar status kelasnya, sehingga sistem
pelapisan sosial ini berlaku secara turun temurun. Seseorang juga dilarang
melakukan perkawinan campuran, sehingga diskriminasi sosial sangat tajam di
masyarakat Tokugawa ini.
Akhir Politik Isolasi
Akhir politik Isolasi yang diterapkan oleh Jepang
berawal dari berkembangnya Ilmu pengetahuan dari dunia barat dimana memunculkan
pendapat baru yang menentang akan kebijakan politik isolasi yang dilakukan oleh
Bakufu terhadap Jepang. Pada awalnya politik isolasi selama 200 tahun berhasil
membangun Jepang dengan identitas sebagai masyarakat feodal yang kuat serta
kebudayaan Jepang yang sudah mengalami kematangan ditandai dengan menguatnya
rasa nasionalisme di kalangan masyarakat Jepang. Hal ini ditandai dengan
keberhasilan Jepang dalam menghidarkan diri dari perpecahan nasional sebab
Ikharisma tenno dan ideologi Tennoisme yang mencanangkan anti orang
asing. Namun disisi lain dengan melaksanakan politik isolasi, Jepang menjadi
negara terbelakang. Di tengah-tengah keadaan demikian itulah lahir nasionalisme
Eropa Barat. Nasionalisme ini tumbuh menjadi suatu aliran yang penuh emosi dan
sentimen sehingga nasionalisme Barat melahirkan kolonialisme, yaitu mencari
jajahan di luar benuanya sendiri (Suhartono, 2001:6).
Maka dari itu untuk mengimbangi keterasingan dari
dunia luar agar tidak tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan masyarakat
Jepang mulai mempelajari ilmu-ilmu sains dimana mereka mempelajari ilmu
tersebut dari negeri Belanda. Bahkan ilmu-ilmu yang didapatkan tersebut
dimasukkan dalam sistem pendidikan. Namun kebijakan pemerintah Jepang hanya
mengizinkan Belanda untuk tinggal di Dejima tanpa masuk wilayah Jepang yang
membuat masyarakat lebih objektif dalam menerima ilmu-ilmu dari Belanda
tersebut. Hal ini dilakukan oleh Jepang karena meskipun sudah mau mempelajari
ilmu dari luar namun masih harus menjunjung tinggi tradisinya agar tidak
kecampur oleh pengaruh luar yang negatif.
Nantinya hasil pembelajaran sains dari Belanda ini
menjadi metode struktural dalam upaya pemerintah agar masyarakat tidak
terkontaminasi budaya barat dan tetap menjunjung tinggi tradisi Jepang. Selain
daripada ideologi konfusianisme, dan etika Bushido, ajaran Shintoisme juga
merupakan ajaran tradisional Jepang yang didalamnya banyak mengajarkan mengenai
nilai-nilai kesetiaan pada kaisar atau pemimpin dan hormat pada arwah leluhur
(Takeshi & Koyu, 2008:328-388).





Posting Komentar untuk "Politik Isolasi Jepang pada Masa Pemerintahan Tokugawa (1638-1863)"